sunk cost fallacy

mengapa sulit berhenti berinvestasi pada aset yang sudah jelas rugi

sunk cost fallacy
I

Pernahkah kita menonton film di bioskop yang luar biasa membosankan? Setengah jam pertama, kita sudah menguap berulang kali. Tapi, kita tetap duduk manis menatap layar sampai akhir. Kenapa? Karena tiketnya sudah dibeli. Kita merasa sayang jika membuang uang yang sudah telanjur dikeluarkan. Sekarang, mari kita bawa logika yang persis sama ini ke dunia investasi. Pernahkah teman-teman melihat portofolio saham atau kripto yang merah merona? Sebuah aset yang jelas-jelas fundamentalnya sudah hancur dan tidak ada harapan. Tapi anehnya, kita malah menolak jual rugi. Kita justru membelinya lagi untuk average down atau rata-rata ke bawah. Kita merasa kalau kita menyerah sekarang, uang kita benar-benar hangus dan kebodohan kita terkonfirmasi. Padahal, kita sadar betul kapal itu sudah bocor dan perlahan tenggelam ke dasar laut.

II

Fenomena menolak turun dari kapal karam ini ternyata bukan cuma dominasi investor amatir. Sejarah mencatat salah satu blunder finansial terbesar yang pernah dilakukan oleh dua negara maju. Mari kita mundur sejenak ke pertengahan abad ke-20. Saat itu, pemerintah Inggris dan Prancis sepakat patungan untuk membangun sebuah pesawat komersial supersonik yang revolusioner. Pesawat itu bernama Concorde. Di tengah proses riset dan pembuatan, biaya membengkak gila-gilaan. Secara hitungan bisnis murni, proyek ini sudah diproyeksikan tidak akan pernah balik modal. Namun, coba tebak apa yang mereka lakukan? Apakah mereka menghentikan proyeknya? Tentu tidak. Mereka terus menyuntikkan dana triliunan rupiah ke dalam pabrik perakitannya. Alasan mereka sederhana sekaligus tragis. Mereka merasa sudah terlalu banyak keluar uang, waktu, dan gengsi politik untuk mundur begitu saja.

III

Cerita pesawat Concorde dan koin investasi kita yang nyangkut itu punya benang merah yang sangat kuat. Logika murni seharusnya berbisik begini kepada kita: kalau sudah tahu rugi, ya hentikan pendarahannya. Ambil sisa uang yang masih ada, lalu pindahkan ke tempat lain yang jauh lebih masuk akal dan menguntungkan. Tapi anehnya, otak kita justru berteriak sebaliknya. Kita malah menjadi semakin keras kepala. Kita rela mengorbankan masa depan demi membenarkan rentetan kesalahan yang kita buat di masa lalu. Pertanyaannya, ada apa dengan otak kita? Mengapa manusia, yang mengaku sebagai makhluk paling rasional di bumi, bisa mengambil keputusan sebodoh ini saat dihadapkan pada kerugian finansial? Apakah ada semacam korsleting di dalam sistem saraf kita sendiri?

IV

Inilah saatnya kita berkenalan dengan sebuah jebakan psikologis mematikan bernama sunk cost fallacy. Secara harfiah, ini adalah sesat pikir mengenai biaya yang sudah telanjur tenggelam. Dalam dunia psikologi evolusioner dan neurosains, kebodohan kita ini ternyata punya penjelasan ilmiah yang sangat solid. Dua ilmuwan legendaris pemenang Nobel, Daniel Kahneman dan Amos Tversky, menemukan konsep yang disebut loss aversion atau penghindaran kerugian. Secara biologis, rasa sakit karena kehilangan sesuatu itu terasa dua kali lipat lebih menyiksa dibandingkan kebahagiaan saat kita mendapatkan keuntungan. Saat kita melihat nilai investasi kita anjlok drastis, bagian otak yang memproses rasa takut, yaitu amygdala, menyala sangat terang. Otak kita merespons kerugian finansial ini mirip dengan ancaman rasa sakit fisik. Kita menjadi panik. Bagi otak, menekan tombol sell dan mengakui kekalahan berarti mengesahkan rasa sakit tersebut secara permanen. Otak kita sangat membenci rasa sakit. Jadi, ia meresepkan semacam obat penenang berupa ilusi harapan. Kita menipu diri sendiri dengan meyakini bahwa "sebentar lagi pasti naik", padahal data dan fakta di lapangan sudah berkata lain.

V

Memahami cara kerja sunk cost fallacy tentu bukan berarti kita seketika jadi kebal dari kesalahan investasi. Kita semua manusia biasa. Rasanya memang sangat pedih saat harus cut loss atau merelakan uang hasil keringat kita menguap begitu saja. Tapi, teman-teman, menyadari kelemahan bawaan otak kita adalah langkah pertama untuk menang. Masa lalu sudah berlalu. Uang dan waktu yang sudah hilang tidak bisa lagi dijadikan alasan untuk membuang sisa uang sehat yang kita miliki hari ini. Saat kita kembali terjebak dalam dilema investasi yang merugi, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan satu hal pada diri sendiri. "Jika uang saya saat ini sedang cash dan saya belum pernah berinvestasi di aset ini, apakah hari ini saya akan membelinya?" Jika jawabannya tidak, mungkin ini saatnya kita berkemas, menerima kenyataan, dan mencari kapal baru yang mesinnya masih menyala. Percayalah, melepaskan itu tidak selalu berarti kita kalah. Seringkali, mundur selangkah adalah bentuk kemenangan paling rasional yang bisa kita berikan untuk menyelamatkan masa depan kita sendiri.